Senin, 27 April 2026

Ketika Semua Orang Menjadi Wartawan

Abdul Rahman Saleh

Pagi ini, berita tentang kecelakaan kereta di Bekasi mendominasi layar televisi. Stasiun berita menayangkannya sebagai breaking news. Gambar-gambar dari lokasi kejadian terus mengalir. Reporter berbicara dari lapangan, sementara di studio, penyiar mencoba merangkai informasi yang masuk.

Namun, di saat yang sama, ada “ruang siaran” lain yang bekerja jauh lebih cepat: media sosial.

Dalam hitungan menit, bahkan detik, foto, video, dan kabar beredar luas. Siapa pun yang berada di lokasi, atau merasa dekat dengan informasi, seketika dapat menjadi “wartawan”. Mereka merekam, menulis, dan menyebarkan.

Sekilas, ini tampak sebagai kemajuan. Informasi menjadi lebih cepat, lebih dekat, lebih langsung. Namun di balik itu, muncul persoalan yang tidak sederhana: tidak semua yang disampaikan adalah kebenaran yang utuh.

Saya melihat sendiri bagaimana informasi tentang jumlah korban berbeda-beda. Media arus utama sudah melaporkan delapan korban meninggal, sementara di media sosial masih beredar angka tiga. Bahkan di televisi pun terjadi ketidaksinkronan: reporter di lapangan menyebut angka delapan berdasarkan informasi terbaru, sementara penyiar di studio masih menyebut tujuh.

Apakah ini berarti media tidak akurat? Tidak sesederhana itu.

Dalam situasi seperti ini, kita sebenarnya sedang menyaksikan proses terbentuknya informasi. Data tidak datang dalam bentuk yang sudah selesai. Ia muncul bertahap, sering kali tidak lengkap, dan terus diperbarui.

Ambil contoh istilah yang sering muncul dalam laporan awal: “kantong jenazah”. Ketika disebut ada delapan kantong jenazah, banyak orang langsung menyimpulkan ada delapan korban meninggal. Padahal, dalam praktiknya, satu korban bisa saja menggunakan lebih dari satu kantong, atau kantong sudah disiapkan tetapi belum semuanya terisi. Konfirmasi resmi membutuhkan waktu.

Di sinilah perbedaan antara media arus utama dan media sosial menjadi jelas.

Media arus utama bekerja dengan proses: verifikasi, konfirmasi, dan kehati-hatian. Meski dalam tekanan kecepatan, mereka tetap berusaha memastikan bahwa apa yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebaliknya, media sosial bekerja dengan dorongan spontan: menjadi yang pertama, menjadi yang terlihat, atau sekadar berbagi. Niatnya tidak selalu buruk—sering kali justru karena empati. Namun tanpa verifikasi, informasi yang disebarkan bisa tertinggal, tidak lengkap, bahkan keliru.

Yang menarik, dalam situasi seperti ini, bahkan media arus utama pun bisa terlihat tidak sinkron. Bukan karena mereka ceroboh, tetapi karena mereka sedang berada di tengah dilema: antara menjadi cepat dan tetap akurat.

Di mata publik, perbedaan angka—tujuh atau delapan—bisa menimbulkan kebingungan. Namun sebenarnya, itu adalah tanda bahwa proses verifikasi masih berlangsung. Informasi belum selesai, tetapi sudah harus disampaikan.

Kita hidup di zaman di mana setiap orang bisa menjadi penyampai informasi. Ini adalah kekuatan sekaligus tantangan. Kekuatan karena informasi tidak lagi dimonopoli. Tantangan karena kebenaran menjadi lebih sulit dibedakan dari sekadar kabar.

Dalam kondisi seperti ini, mungkin yang perlu kita bangun bukan hanya kemampuan menyampaikan informasi, tetapi juga kemampuan menahan diri. Tidak semua yang kita ketahui perlu segera dibagikan. Tidak semua yang kita lihat adalah gambaran utuh.

Pada akhirnya, peristiwa seperti ini mengingatkan kita bahwa kebenaran tidak selalu datang sekaligus. Ia hadir sedikit demi sedikit, melalui proses yang kadang tampak tidak rapi.

Dan di tengah arus informasi yang begitu deras, tugas kita bukan hanya menerima, tetapi juga memahami—bahwa di balik setiap angka, ada proses yang belum selesai. (Boo, 28/04/2026)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelum Berbicara di Depan Publik

Abdul R Saleh Belakangan ini, kita sering menyaksikan pola yang berulang dalam ruang publik. Seorang pejabat menyampaikan pernyataan, publ...