Abdul Rahman Saleh
Pagi ini, berita tentang kecelakaan kereta di Bekasi mendominasi layar televisi. Stasiun berita menayangkannya sebagai breaking news. Gambar-gambar dari lokasi kejadian terus mengalir. Reporter berbicara dari lapangan, sementara di studio, penyiar mencoba merangkai informasi yang masuk.
Namun, di saat yang sama, ada “ruang siaran” lain yang
bekerja jauh lebih cepat: media sosial.
Dalam hitungan menit, bahkan detik, foto, video, dan kabar
beredar luas. Siapa pun yang berada di lokasi, atau merasa dekat dengan
informasi, seketika dapat menjadi “wartawan”. Mereka merekam, menulis, dan
menyebarkan.
Sekilas, ini tampak sebagai kemajuan. Informasi menjadi
lebih cepat, lebih dekat, lebih langsung. Namun di balik itu, muncul persoalan
yang tidak sederhana: tidak semua yang disampaikan adalah kebenaran yang utuh.
Saya melihat sendiri bagaimana informasi tentang jumlah
korban berbeda-beda. Media arus utama sudah melaporkan delapan korban
meninggal, sementara di media sosial masih beredar angka tiga. Bahkan di
televisi pun terjadi ketidaksinkronan: reporter di lapangan menyebut angka
delapan berdasarkan informasi terbaru, sementara penyiar di studio masih
menyebut tujuh.
Apakah ini berarti media tidak akurat? Tidak sesederhana
itu.
Dalam situasi seperti ini, kita sebenarnya sedang
menyaksikan proses terbentuknya informasi. Data tidak datang dalam bentuk yang
sudah selesai. Ia muncul bertahap, sering kali tidak lengkap, dan terus
diperbarui.
Ambil contoh istilah yang sering muncul dalam laporan awal:
“kantong jenazah”. Ketika disebut ada delapan kantong jenazah, banyak orang
langsung menyimpulkan ada delapan korban meninggal. Padahal, dalam praktiknya,
satu korban bisa saja menggunakan lebih dari satu kantong, atau kantong sudah
disiapkan tetapi belum semuanya terisi. Konfirmasi resmi membutuhkan waktu.
Di sinilah perbedaan antara media arus utama dan media
sosial menjadi jelas.
Media arus utama bekerja dengan proses: verifikasi,
konfirmasi, dan kehati-hatian. Meski dalam tekanan kecepatan, mereka tetap
berusaha memastikan bahwa apa yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebaliknya, media sosial bekerja dengan dorongan spontan:
menjadi yang pertama, menjadi yang terlihat, atau sekadar berbagi. Niatnya
tidak selalu buruk—sering kali justru karena empati. Namun tanpa verifikasi,
informasi yang disebarkan bisa tertinggal, tidak lengkap, bahkan keliru.
Yang menarik, dalam situasi seperti ini, bahkan media arus
utama pun bisa terlihat tidak sinkron. Bukan karena mereka ceroboh, tetapi
karena mereka sedang berada di tengah dilema: antara menjadi cepat dan tetap
akurat.
Di mata publik, perbedaan angka—tujuh atau delapan—bisa
menimbulkan kebingungan. Namun sebenarnya, itu adalah tanda bahwa proses
verifikasi masih berlangsung. Informasi belum selesai, tetapi sudah harus
disampaikan.
Kita hidup di zaman di mana setiap orang bisa menjadi
penyampai informasi. Ini adalah kekuatan sekaligus tantangan. Kekuatan karena
informasi tidak lagi dimonopoli. Tantangan karena kebenaran menjadi lebih sulit
dibedakan dari sekadar kabar.
Dalam kondisi seperti ini, mungkin yang perlu kita bangun
bukan hanya kemampuan menyampaikan informasi, tetapi juga kemampuan menahan
diri. Tidak semua yang kita ketahui perlu segera dibagikan. Tidak semua yang
kita lihat adalah gambaran utuh.
Pada akhirnya, peristiwa seperti ini mengingatkan kita bahwa
kebenaran tidak selalu datang sekaligus. Ia hadir sedikit demi sedikit, melalui
proses yang kadang tampak tidak rapi.
Dan di tengah arus informasi yang begitu deras, tugas kita
bukan hanya menerima, tetapi juga memahami—bahwa di balik setiap angka, ada
proses yang belum selesai. (Boo, 28/04/2026)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar