Abdul R Saleh
Ketika cucu saya lahir, saya merasa menemukan kembali
satu fase kehidupan yang pernah saya jalani puluhan tahun lalu. Bedanya, kali
ini bukan sebagai orang tua, melainkan sebagai kakek—dengan waktu yang lebih
longgar, tapi tenaga yang tidak lagi sama.
Untuk sementara, kami sepakat: cucu kami diasuh oleh
keluarga. Bergantian antara kakek-nenek dari anakku dan kakek-nenek dari
menantuku (besan). Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan. Anak itu berada di
tangan orang-orang yang mencintainya tanpa syarat. Tangisnya ditenangkan, bukan
dibungkam. Makannya disuapi dengan sabar, bukan dipaksa.
Namun, di balik ketenangan itu, ada kesadaran yang
pelan-pelan muncul: waktu tidak bisa ditawar.
Hari ini mungkin masih kuat. Sebulan lagi, setahun
lagi, belum tentu. Tubuh punya batas. Dan ketika batas itu datang,
pilihan-pilihan yang dulu terasa jauh akan menjadi nyata.
Di situlah kegelisahan mulai muncul.
Selama ini, saya sering mendengar kekhawatiran tentang
pengasuhan di rumah. Tentang suster atau asisten rumah tangga yang membentak
anak. Tentang pengasuh yang sibuk dengan ponsel sementara anak dibiarkan
sendiri. Bahkan ada cerita tentang anak yang diberi obat agar tidur lebih lama.
Cerita-cerita itu membuat saya berpikir: mungkin
tempat yang lebih “resmi”, seperti daycare, adalah pilihan yang lebih aman.
Namun belakangan, saya justru mendengar hal yang lebih
mengganggu. Ada balita yang disiksa di tempat penitipan. Kakinya diikat.
Mulutnya disumpal ketika menangis. Tempat yang seharusnya menjadi ruang
perlindungan justru berubah menjadi ruang ketakutan.
Di titik itu, saya seperti kehilangan pegangan.
Jika di rumah bisa berisiko, dan di daycare pun tidak
selalu aman, lalu di mana sebenarnya tempat yang aman bagi seorang anak?
Mungkin pertanyaan itu tidak memiliki jawaban yang
sederhana.
Karena ternyata, keamanan tidak sepenuhnya ditentukan
oleh tempat. Ia ditentukan oleh manusia yang ada di dalamnya—oleh cara pandang,
oleh kesabaran, oleh empati.
Di rumah, seorang pengasuh bisa memperlakukan anak
dengan penuh kasih, atau sebaliknya. Di daycare, seorang tenaga profesional
bisa mendidik dengan baik, atau justru melukai.
Tempat hanya wadah. Yang mengisinya adalah nilai.
Saya mulai menyadari bahwa yang selama ini kita cari
bukan sekadar tempat yang aman, tetapi orang-orang yang memahami bahwa anak
bukan objek yang harus dibuat diam. Ia adalah individu kecil yang sedang
belajar mengenal dunia—dengan segala keterbatasannya.
Menangis bukan kesalahan. Rewel bukan gangguan. Itu
bahasa mereka.
Masalahnya, tidak semua orang mau atau mampu memahami
bahasa itu.
Maka kegelisahan saya hari ini bukan lagi sekadar
memilih antara rumah atau daycare. Kegelisahan saya adalah bagaimana memastikan
bahwa ketika cucu saya nanti berada di luar pelukan kami, ia tetap berada di
tangan yang tepat.
Kami mungkin tidak akan bisa mengasuhnya selamanya.
Itu kenyataan yang harus diterima.
Tetapi mungkin yang bisa kami lakukan adalah
menyiapkan transisi itu dengan hati-hati. Tidak tergesa-gesa. Tidak sekadar
percaya pada label atau tampilan.
Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan
kenyamanan kita sebagai orang dewasa, tetapi rasa aman seorang anak kecil yang
belum mampu membela dirinya sendiri.
Dan mungkin, di situlah letak tanggung jawab kita yang
sebenarnya: bukan mencari tempat yang sempurna, tetapi memastikan bahwa di mana
pun anak itu berada, ia tetap diperlakukan sebagai manusia—bukan sekadar
sesuatu yang harus dijaga agar tidak merepotkan. (Boo, 29/04/2026)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar