Sabtu, 02 Mei 2026

Tempat yang Kita Anggap Aman

 Abdul R Saleh

Ketika cucu saya lahir, saya merasa menemukan kembali satu fase kehidupan yang pernah saya jalani puluhan tahun lalu. Bedanya, kali ini bukan sebagai orang tua, melainkan sebagai kakek—dengan waktu yang lebih longgar, tapi tenaga yang tidak lagi sama.

Untuk sementara, kami sepakat: cucu kami diasuh oleh keluarga. Bergantian antara kakek-nenek dari anakku dan kakek-nenek dari menantuku (besan). Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan. Anak itu berada di tangan orang-orang yang mencintainya tanpa syarat. Tangisnya ditenangkan, bukan dibungkam. Makannya disuapi dengan sabar, bukan dipaksa.

Namun, di balik ketenangan itu, ada kesadaran yang pelan-pelan muncul: waktu tidak bisa ditawar.

Hari ini mungkin masih kuat. Sebulan lagi, setahun lagi, belum tentu. Tubuh punya batas. Dan ketika batas itu datang, pilihan-pilihan yang dulu terasa jauh akan menjadi nyata.

Di situlah kegelisahan mulai muncul.

Selama ini, saya sering mendengar kekhawatiran tentang pengasuhan di rumah. Tentang suster atau asisten rumah tangga yang membentak anak. Tentang pengasuh yang sibuk dengan ponsel sementara anak dibiarkan sendiri. Bahkan ada cerita tentang anak yang diberi obat agar tidur lebih lama.

Cerita-cerita itu membuat saya berpikir: mungkin tempat yang lebih “resmi”, seperti daycare, adalah pilihan yang lebih aman.

Namun belakangan, saya justru mendengar hal yang lebih mengganggu. Ada balita yang disiksa di tempat penitipan. Kakinya diikat. Mulutnya disumpal ketika menangis. Tempat yang seharusnya menjadi ruang perlindungan justru berubah menjadi ruang ketakutan.

Di titik itu, saya seperti kehilangan pegangan.

Jika di rumah bisa berisiko, dan di daycare pun tidak selalu aman, lalu di mana sebenarnya tempat yang aman bagi seorang anak?

Mungkin pertanyaan itu tidak memiliki jawaban yang sederhana.

Karena ternyata, keamanan tidak sepenuhnya ditentukan oleh tempat. Ia ditentukan oleh manusia yang ada di dalamnya—oleh cara pandang, oleh kesabaran, oleh empati.

Di rumah, seorang pengasuh bisa memperlakukan anak dengan penuh kasih, atau sebaliknya. Di daycare, seorang tenaga profesional bisa mendidik dengan baik, atau justru melukai.

Tempat hanya wadah. Yang mengisinya adalah nilai.

Saya mulai menyadari bahwa yang selama ini kita cari bukan sekadar tempat yang aman, tetapi orang-orang yang memahami bahwa anak bukan objek yang harus dibuat diam. Ia adalah individu kecil yang sedang belajar mengenal dunia—dengan segala keterbatasannya.

Menangis bukan kesalahan. Rewel bukan gangguan. Itu bahasa mereka.

Masalahnya, tidak semua orang mau atau mampu memahami bahasa itu.

Maka kegelisahan saya hari ini bukan lagi sekadar memilih antara rumah atau daycare. Kegelisahan saya adalah bagaimana memastikan bahwa ketika cucu saya nanti berada di luar pelukan kami, ia tetap berada di tangan yang tepat.

Kami mungkin tidak akan bisa mengasuhnya selamanya. Itu kenyataan yang harus diterima.

Tetapi mungkin yang bisa kami lakukan adalah menyiapkan transisi itu dengan hati-hati. Tidak tergesa-gesa. Tidak sekadar percaya pada label atau tampilan.

Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan kenyamanan kita sebagai orang dewasa, tetapi rasa aman seorang anak kecil yang belum mampu membela dirinya sendiri.

Dan mungkin, di situlah letak tanggung jawab kita yang sebenarnya: bukan mencari tempat yang sempurna, tetapi memastikan bahwa di mana pun anak itu berada, ia tetap diperlakukan sebagai manusia—bukan sekadar sesuatu yang harus dijaga agar tidak merepotkan. (Boo, 29/04/2026)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelum Berbicara di Depan Publik

Abdul R Saleh Belakangan ini, kita sering menyaksikan pola yang berulang dalam ruang publik. Seorang pejabat menyampaikan pernyataan, publ...