Abdul Rahman Saleh
Dulu, membaca adalah pengalaman yang pelan, bahkan nyaris
kontemplatif. Sebuah novel setebal dua ratus halaman terasa ringan. Dalam satu
atau dua hari, ia bisa tamat—bukan karena terburu-buru, tetapi karena kita
tenggelam di dalamnya. Saya masih ingat, ketika remaja, kami berebut membaca
kisah petualangan karya Karl May. Nama-nama seperti Old Shatterhand dan
Winnetou bukan sekadar tokoh, melainkan dunia yang kami masuki. Kami
seolah-olah berada di padang praire, menunggang kuda, merasakan angin dan debu
yang sama.
Hari ini, pemandangan itu terasa jauh.
Bukan berarti generasi sekarang tidak membaca. Justru
sebaliknya, bahan bacaan tersedia jauh lebih melimpah. Perpustakaan digital
seperti iPusnas menyediakan ribuan buku yang dapat diakses dari mana saja.
Platform daring seperti Wattpad atau KBM App menghadirkan teks dalam berbagai
bentuk, dari cerita ringan hingga karya panjang. Akses tidak lagi menjadi
persoalan utama.
Namun, di tengah kelimpahan itu, ada sesuatu yang perlahan
memudar: ketahanan membaca.
Membaca kini sering dilakukan dalam potongan-potongan
pendek. Cepat, ringkas, segera ke inti. Kita terbiasa menggulir layar,
berpindah dari satu teks ke teks lain tanpa sempat benar-benar tinggal. Dalam
situasi seperti ini, membaca kehilangan salah satu hakikatnya yang paling
penting: menjadi ruang untuk berdiam.
Padahal, di situlah sesungguhnya nilai membaca berada.
Membaca yang mendalam bukan sekadar aktivitas kognitif. Ia
adalah latihan batin. Ketika seseorang bertahan dalam sebuah teks—mengikuti
alur yang tidak selalu cepat, memahami tokoh yang tidak selalu sederhana—ia
sedang belajar melihat dunia dari sudut pandang lain. Ia belajar merasakan apa
yang tidak ia alami. Dari situlah tumbuh apa yang dalam budaya kita dikenal
sebagai tepo sliro: kepekaan untuk menempatkan diri pada orang lain.
Tentu saja, membaca bukan satu-satunya faktor yang membentuk
manusia. Fenomena sosial seperti tawuran, misalnya, tidak bisa dijelaskan
secara sederhana. Ada banyak faktor yang terlibat: kondisi keluarga, tekanan
ekonomi, lingkungan tempat tinggal, hingga pengaruh pergaulan dan tontonan.
Namun demikian, kita tidak bisa mengabaikan satu hal: manusia yang terlatih
merasakan biasanya memiliki jeda sebelum bertindak. Dan jeda itu sering kali
menjadi penahan.
Di sinilah persoalan membaca menjadi relevan.
Masalahnya bukan semata-mata pada ada atau tidaknya bacaan,
melainkan pada cara membaca dan apa yang terjadi setelah membaca. Tidak
semua bacaan menghadirkan kedalaman, dan tidak semua pembacaan melahirkan
perenungan. Tanpa refleksi, membaca hanya berhenti sebagai aktivitas. Ia tidak
sempat menjadi proses pembentukan budi.
Kita juga tidak bisa sepenuhnya menyerahkan kebiasaan ini
pada kesadaran individu. Dalam banyak keluarga, terutama di lapisan masyarakat
tertentu, bahan bacaan masih jarang ditemukan. Anak-anak tumbuh tanpa melihat
contoh bahwa membaca adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Di sisi lain,
sekolah belum sepenuhnya berhasil menjadikan membaca sebagai budaya, bukan
sekadar tugas.
Padahal, jika membaca ingin kembali memiliki makna, ia perlu
dilatih—bukan dipaksakan secara kaku, tetapi dibiasakan secara hidup.
Diperkenalkan sejak dini, dipertahankan dengan kesabaran, dan diperkaya dengan
ruang refleksi.
Mungkin kita memang sedang hidup di zaman yang berbeda. Cara
membaca berubah, ritme kehidupan berubah, bahkan cara kita memperhatikan
sesuatu pun berubah. Namun satu hal tampaknya tetap: manusia tetap membutuhkan
kedalaman untuk memahami sesamanya.
Dan di antara berbagai cara yang ada, membaca yang mendalam
tetap menjadi salah satu jalan yang paling sunyi—dan paling mungkin—untuk
memperhalus budi manusia.(Boo, 17/04/2026)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar