Kamis, 16 April 2026

Membaca, Kesabaran, dan Hilangnya Latihan Batin

Abdul Rahman Saleh

Dulu, membaca adalah pengalaman yang pelan, bahkan nyaris kontemplatif. Sebuah novel setebal dua ratus halaman terasa ringan. Dalam satu atau dua hari, ia bisa tamat—bukan karena terburu-buru, tetapi karena kita tenggelam di dalamnya. Saya masih ingat, ketika remaja, kami berebut membaca kisah petualangan karya Karl May. Nama-nama seperti Old Shatterhand dan Winnetou bukan sekadar tokoh, melainkan dunia yang kami masuki. Kami seolah-olah berada di padang praire, menunggang kuda, merasakan angin dan debu yang sama.

Hari ini, pemandangan itu terasa jauh.

Bukan berarti generasi sekarang tidak membaca. Justru sebaliknya, bahan bacaan tersedia jauh lebih melimpah. Perpustakaan digital seperti iPusnas menyediakan ribuan buku yang dapat diakses dari mana saja. Platform daring seperti Wattpad atau KBM App menghadirkan teks dalam berbagai bentuk, dari cerita ringan hingga karya panjang. Akses tidak lagi menjadi persoalan utama.

Namun, di tengah kelimpahan itu, ada sesuatu yang perlahan memudar: ketahanan membaca.

Membaca kini sering dilakukan dalam potongan-potongan pendek. Cepat, ringkas, segera ke inti. Kita terbiasa menggulir layar, berpindah dari satu teks ke teks lain tanpa sempat benar-benar tinggal. Dalam situasi seperti ini, membaca kehilangan salah satu hakikatnya yang paling penting: menjadi ruang untuk berdiam.

Padahal, di situlah sesungguhnya nilai membaca berada.

Membaca yang mendalam bukan sekadar aktivitas kognitif. Ia adalah latihan batin. Ketika seseorang bertahan dalam sebuah teks—mengikuti alur yang tidak selalu cepat, memahami tokoh yang tidak selalu sederhana—ia sedang belajar melihat dunia dari sudut pandang lain. Ia belajar merasakan apa yang tidak ia alami. Dari situlah tumbuh apa yang dalam budaya kita dikenal sebagai tepo sliro: kepekaan untuk menempatkan diri pada orang lain.

Tentu saja, membaca bukan satu-satunya faktor yang membentuk manusia. Fenomena sosial seperti tawuran, misalnya, tidak bisa dijelaskan secara sederhana. Ada banyak faktor yang terlibat: kondisi keluarga, tekanan ekonomi, lingkungan tempat tinggal, hingga pengaruh pergaulan dan tontonan. Namun demikian, kita tidak bisa mengabaikan satu hal: manusia yang terlatih merasakan biasanya memiliki jeda sebelum bertindak. Dan jeda itu sering kali menjadi penahan.

Di sinilah persoalan membaca menjadi relevan.

Masalahnya bukan semata-mata pada ada atau tidaknya bacaan, melainkan pada cara membaca dan apa yang terjadi setelah membaca. Tidak semua bacaan menghadirkan kedalaman, dan tidak semua pembacaan melahirkan perenungan. Tanpa refleksi, membaca hanya berhenti sebagai aktivitas. Ia tidak sempat menjadi proses pembentukan budi.

Kita juga tidak bisa sepenuhnya menyerahkan kebiasaan ini pada kesadaran individu. Dalam banyak keluarga, terutama di lapisan masyarakat tertentu, bahan bacaan masih jarang ditemukan. Anak-anak tumbuh tanpa melihat contoh bahwa membaca adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, sekolah belum sepenuhnya berhasil menjadikan membaca sebagai budaya, bukan sekadar tugas.

Padahal, jika membaca ingin kembali memiliki makna, ia perlu dilatih—bukan dipaksakan secara kaku, tetapi dibiasakan secara hidup. Diperkenalkan sejak dini, dipertahankan dengan kesabaran, dan diperkaya dengan ruang refleksi.

Mungkin kita memang sedang hidup di zaman yang berbeda. Cara membaca berubah, ritme kehidupan berubah, bahkan cara kita memperhatikan sesuatu pun berubah. Namun satu hal tampaknya tetap: manusia tetap membutuhkan kedalaman untuk memahami sesamanya.

Dan di antara berbagai cara yang ada, membaca yang mendalam tetap menjadi salah satu jalan yang paling sunyi—dan paling mungkin—untuk memperhalus budi manusia.(Boo, 17/04/2026)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelum Berbicara di Depan Publik

Abdul R Saleh Belakangan ini, kita sering menyaksikan pola yang berulang dalam ruang publik. Seorang pejabat menyampaikan pernyataan, publ...