Abdul R Saleh
Beberapa waktu lalu saya mendengar sebuah
iklan makanan yang dengan bangga menyebutkan bahwa produknya dibuat dari kakao
Brasil dan susu Selandia Baru. Entah benar atau tidak, yang menarik bukan pada
faktanya, melainkan pada pesan yang ingin disampaikan: bahan dari luar negeri
seolah menjadi jaminan kualitas.
Reaksi pertama saya sederhana: mengapa harus
jauh-jauh mencari ke luar, ketika negeri ini sendiri dikenal sebagai salah satu
penghasil kakao dunia, dan memiliki sentra peternakan susu di berbagai daerah?
Namun, setelah direnungkan lebih jauh, persoalannya ternyata tidak sesederhana
itu.
Kita tampaknya masih hidup dalam bayang-bayang
persepsi lama: bahwa yang datang dari luar lebih baik, lebih bergengsi, dan
lebih layak dipercaya. Persepsi ini tidak hanya hidup dalam iklan, tetapi juga
dalam perilaku sehari-hari.
Saya teringat pengalaman ketika tinggal di
Inggris. Seorang teman membeli sepatu olahraga setelah memilih dengan cermat
berdasarkan model dan kualitas. Namun sesampainya di rumah, ia menemukan
tulisan kecil: Made in Indonesia. Seketika ekspresinya berubah. Sepatu
itu tidak lagi terasa sama, bukan karena kualitasnya berubah, tetapi karena
maknanya di kepalanya ikut berubah.
Padahal, sepatu tersebut berasal dari
Cibaduyut—sebuah kawasan yang sejak lama dikenal sebagai sentra kerajinan
sepatu. Di negeri orang, produk itu tampil percaya diri. Di mata kita sendiri,
ia masih harus berjuang mendapatkan pengakuan.
Fenomena ini menjelaskan mengapa cerita-cerita
seperti produk lokal yang “diputar” ke luar negeri agar bisa dijual lebih mahal
di dalam negeri mudah dipercaya, meskipun belum tentu benar. Ia terasa masuk
akal karena sesuai dengan cara kita memandang nilai.
Padahal, realitas industri menunjukkan bahwa
kualitas tidak datang tiba-tiba. Negara seperti China dan Jepang membangun
reputasi produknya melalui proses panjang. Dari produk sederhana hingga
teknologi tinggi, semua dicapai melalui konsistensi, pembelajaran, dan pasar
yang terus berkembang. Kita bisa melihatnya hari ini, bahkan pada proyek
seperti Whoosh yang menunjukkan bagaimana lompatan kualitas dapat terjadi.
Di sisi lain, pemerintah sebenarnya tidak
sepenuhnya tanpa peran. Berbagai standar seperti SNI, regulasi keamanan pangan,
hingga kewajiban fortifikasi merupakan upaya untuk menjaga kualitas produk yang
beredar, baik lokal maupun impor. Ini adalah bentuk “penyaringan halus” di
tengah keterbatasan untuk menerapkan proteksi langsung di era perdagangan
global.
Namun, semua itu tetap berujung pada satu hal:
kepercayaan.
Tanpa kepercayaan dari konsumen, kampanye
“cintai produk dalam negeri” akan berhenti sebagai slogan. Sebaliknya, tanpa
komitmen produsen untuk menjaga dan meningkatkan kualitas, kepercayaan itu
tidak akan pernah tumbuh.
Menariknya, persoalan ini juga terlihat dalam
hal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak muda hari ini
mungkin lebih akrab dengan ramen atau makanan Korea dibandingkan dengan tahu
campur atau sate Padang. Ini bukan semata-mata soal rasa, melainkan soal citra,
pengalaman, dan bagaimana sebuah produk dipresentasikan.
Di sinilah kita melihat bahwa tantangan kita
bukan hanya memproduksi barang yang baik, tetapi juga membangun cara pandang
terhadap nilai. Produk lokal tidak cukup hanya berkualitas; ia juga perlu
tampil percaya diri, dikemas dengan baik, dan diceritakan dengan cara yang
relevan dengan zamannya.
Pada akhirnya, kita tidak perlu menolak produk
luar untuk mencintai produk sendiri. Dunia hari ini terlalu terhubung untuk
berpikir secara hitam-putih. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun
keseimbangan: terbuka terhadap dunia luar, tetapi tetap memiliki kepercayaan
pada kemampuan sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar