Senin, 20 April 2026

Antara Impor dan Percaya Diri: Mencari Jalan Tengah Produk Dalam Negeri

Abdul R Saleh

Beberapa waktu lalu saya mendengar sebuah iklan makanan yang dengan bangga menyebutkan bahwa produknya dibuat dari kakao Brasil dan susu Selandia Baru. Entah benar atau tidak, yang menarik bukan pada faktanya, melainkan pada pesan yang ingin disampaikan: bahan dari luar negeri seolah menjadi jaminan kualitas.

Reaksi pertama saya sederhana: mengapa harus jauh-jauh mencari ke luar, ketika negeri ini sendiri dikenal sebagai salah satu penghasil kakao dunia, dan memiliki sentra peternakan susu di berbagai daerah? Namun, setelah direnungkan lebih jauh, persoalannya ternyata tidak sesederhana itu.

Kita tampaknya masih hidup dalam bayang-bayang persepsi lama: bahwa yang datang dari luar lebih baik, lebih bergengsi, dan lebih layak dipercaya. Persepsi ini tidak hanya hidup dalam iklan, tetapi juga dalam perilaku sehari-hari.

Saya teringat pengalaman ketika tinggal di Inggris. Seorang teman membeli sepatu olahraga setelah memilih dengan cermat berdasarkan model dan kualitas. Namun sesampainya di rumah, ia menemukan tulisan kecil: Made in Indonesia. Seketika ekspresinya berubah. Sepatu itu tidak lagi terasa sama, bukan karena kualitasnya berubah, tetapi karena maknanya di kepalanya ikut berubah.

Padahal, sepatu tersebut berasal dari Cibaduyut—sebuah kawasan yang sejak lama dikenal sebagai sentra kerajinan sepatu. Di negeri orang, produk itu tampil percaya diri. Di mata kita sendiri, ia masih harus berjuang mendapatkan pengakuan.

Fenomena ini menjelaskan mengapa cerita-cerita seperti produk lokal yang “diputar” ke luar negeri agar bisa dijual lebih mahal di dalam negeri mudah dipercaya, meskipun belum tentu benar. Ia terasa masuk akal karena sesuai dengan cara kita memandang nilai.

Padahal, realitas industri menunjukkan bahwa kualitas tidak datang tiba-tiba. Negara seperti China dan Jepang membangun reputasi produknya melalui proses panjang. Dari produk sederhana hingga teknologi tinggi, semua dicapai melalui konsistensi, pembelajaran, dan pasar yang terus berkembang. Kita bisa melihatnya hari ini, bahkan pada proyek seperti Whoosh yang menunjukkan bagaimana lompatan kualitas dapat terjadi.

Di sisi lain, pemerintah sebenarnya tidak sepenuhnya tanpa peran. Berbagai standar seperti SNI, regulasi keamanan pangan, hingga kewajiban fortifikasi merupakan upaya untuk menjaga kualitas produk yang beredar, baik lokal maupun impor. Ini adalah bentuk “penyaringan halus” di tengah keterbatasan untuk menerapkan proteksi langsung di era perdagangan global.

Namun, semua itu tetap berujung pada satu hal: kepercayaan.

Tanpa kepercayaan dari konsumen, kampanye “cintai produk dalam negeri” akan berhenti sebagai slogan. Sebaliknya, tanpa komitmen produsen untuk menjaga dan meningkatkan kualitas, kepercayaan itu tidak akan pernah tumbuh.

Menariknya, persoalan ini juga terlihat dalam hal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak muda hari ini mungkin lebih akrab dengan ramen atau makanan Korea dibandingkan dengan tahu campur atau sate Padang. Ini bukan semata-mata soal rasa, melainkan soal citra, pengalaman, dan bagaimana sebuah produk dipresentasikan.

Di sinilah kita melihat bahwa tantangan kita bukan hanya memproduksi barang yang baik, tetapi juga membangun cara pandang terhadap nilai. Produk lokal tidak cukup hanya berkualitas; ia juga perlu tampil percaya diri, dikemas dengan baik, dan diceritakan dengan cara yang relevan dengan zamannya.

Pada akhirnya, kita tidak perlu menolak produk luar untuk mencintai produk sendiri. Dunia hari ini terlalu terhubung untuk berpikir secara hitam-putih. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun keseimbangan: terbuka terhadap dunia luar, tetapi tetap memiliki kepercayaan pada kemampuan sendiri.

Karena pada akhirnya, kepercayaan itu tidak dibangun oleh slogan, melainkan oleh pengalaman yang berulang—ketika kita menggunakan produk sendiri, merasakan kualitasnya, dan menemukan bahwa ia memang layak untuk dipercaya. (Boo, 21/04/2026)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelum Berbicara di Depan Publik

Abdul R Saleh Belakangan ini, kita sering menyaksikan pola yang berulang dalam ruang publik. Seorang pejabat menyampaikan pernyataan, publ...