Abdul R Saleh
Beberapa waktu lalu, saya membaca seorang anggota DPR yang
marah dalam rapat. Topiknya sederhana, tetapi mendasar: data. Mengapa setiap
kementerian memiliki data sendiri? Mengapa angka bisa berbeda-beda untuk hal
yang sama?
Saya tidak terkejut. Justru saya teringat pengalaman
lama—baik sebagai bagian dari birokrasi, maupun sebagai warga biasa yang pernah
“tersesat” di dalam sistem data.
Sekitar lebih dari sepuluh tahun lalu, saya pernah diundang
dalam sebuah forum yang membahas gagasan “Satu Data”. Waktu itu semangatnya
besar: menjadikan satu institusi sebagai rujukan utama data nasional, sehingga
tidak ada lagi perbedaan angka antar lembaga. Gagasan itu terasa logis, bahkan
mendesak.
Namun hari ini, setelah lebih dari satu dekade, pertanyaan
yang sama masih muncul. Seolah-olah “satu data” masih menjadi cita-cita yang
belum benar-benar terwujud.
Saya teringat pengalaman pribadi yang mungkin terdengar
sederhana, tetapi sebenarnya menggambarkan persoalan yang lebih besar.
Pada awal tahun 2000-an, ketika program identitas
kependudukan mulai diperkuat, saya mendapati sesuatu yang ganjil di lingkungan
tempat tinggal saya. Ada satu keluarga dengan lima anggota, tetapi ketika nomor
identitas dibagikan, jumlahnya menjadi delapan. Tiga anak masing-masing
memiliki dua nomor.
Kasus lain lebih personal. Saya pernah beberapa kali
berpindah tempat tinggal. Setiap kali pindah, saya disiplin mengurus surat
pindah dari kelurahan lama dan melapor ke kelurahan baru. Semua prosedur saya
ikuti.
Namun ketika suatu saat saya ingin memperbarui Kartu
Keluarga, saya justru tidak bisa. Alasannya mengejutkan: saya masih terdaftar
di tempat lain. Bahkan bukan satu, melainkan empat kelurahan sekaligus.
Artinya, dalam sistem administrasi negara, saya sempat
“hidup” di beberapa tempat pada waktu yang sama.
Ini bukan sekadar cerita lucu. Ini adalah cermin dari
bagaimana data dikelola—atau lebih tepatnya, bagaimana data tidak benar-benar
terkelola dengan baik.
Beberapa orang mungkin akan mengatakan bahwa ini masalah
teknologi. Yang lain mungkin menyalahkan sumber daya manusia. Namun pengalaman
menunjukkan bahwa persoalannya lebih dalam dari itu.
Teknologi hari ini sudah jauh lebih canggih. Sistem basis
data terpusat, integrasi antar aplikasi, hingga penyimpanan berbasis cloud
bukan lagi hal yang sulit. Bahkan dibandingkan dengan tiga puluh tahun lalu,
kemampuan kita jauh melampaui.
Namun justru di situlah ironi itu muncul.
Saya pernah mengalami hal yang sangat berbeda ketika belajar
di luar negeri pada akhir 1980-an. Ketika pertama kali tiba, saya melapor ke
kantor imigrasi di ibu kota. Setelah itu, saya melanjutkan perjalanan ke kota
tempat saya belajar.
Di kota tersebut, saya tidak perlu mengisi ulang data. Tidak
perlu membawa berkas tambahan. Petugas hanya melihat paspor saya, lalu
memeriksa layar komputer. Selesai. Data saya sudah ada, sudah dikenali, dan
sudah bisa digunakan.
Artinya, satu kali pendaftaran sudah cukup untuk seluruh
sistem.
Bandingkan dengan pengalaman saya di dalam negeri: satu
orang bisa memiliki banyak identitas, dan satu identitas bisa tersebar di
banyak tempat.
Pertanyaannya sederhana: mengapa hal seperti itu bisa
terjadi?
Jawabannya bukan semata pada teknologi. Bukan pula semata
pada manusia yang menjalankannya. Yang sering kali menjadi akar adalah tata
kelola—bagaimana sistem itu dirancang, disepakati, dan dipatuhi bersama.
Selama setiap lembaga merasa berhak memiliki dan mengelola
datanya sendiri, maka “satu data” hanya akan menjadi slogan. Selama pembaruan
data tidak dilakukan secara konsisten, maka kesalahan akan terus berulang. Dan
selama tidak ada satu sumber data yang benar-benar dijadikan rujukan bersama,
maka perbedaan angka akan selalu muncul.
Masalah data pada akhirnya bukan hanya soal angka. Ia
menentukan kualitas kebijakan, ketepatan sasaran program, bahkan kepercayaan
publik terhadap negara.
Kita tidak kekurangan data. Kita juga tidak kekurangan
teknologi. Yang kita butuhkan adalah kesepakatan kolektif: data mana yang harus
dipercaya, dan bagaimana menjaganya tetap akurat.
Mungkin sudah saatnya kita melihat kembali gagasan “satu
data” bukan sebagai proyek teknis, tetapi sebagai perubahan cara berpikir.
Bahwa data bukan milik instansi, melainkan milik negara. Bahwa pembaruan data
bukan sekadar prosedur administratif, melainkan tanggung jawab bersama.
Karena tanpa itu, kita akan terus berada dalam situasi yang
sama: berbicara tentang satu data, tetapi hidup dalam banyak data yang tidak
pernah benar-benar menjadi satu.
Dan di tengah semua itu, mungkin masih ada orang-orang
seperti saya—yang tanpa sadar pernah menjadi banyak orang, di dalam satu
negara. (Boo, 22/04/2026)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar