Abdul R Saleh
Belakangan ini, kita sering menyaksikan pola yang
berulang dalam ruang publik. Seorang pejabat menyampaikan pernyataan, publik
bereaksi, lalu muncul klarifikasi atau permintaan maaf. Kadang disertai
penjelasan tambahan, kadang pula sekadar meluruskan maksud yang dianggap keliru
dipahami.
Di satu sisi, kesediaan untuk meminta maaf tentu patut
dihargai. Tidak semua orang bersedia mengoreksi diri di ruang terbuka. Namun di
sisi lain, kita juga bertanya: mengapa pernyataan yang menimbulkan kegaduhan
itu bisa muncul sejak awal?
Mungkin persoalannya bukan pada niat, melainkan pada
proses sebelum pernyataan itu disampaikan.
Dalam pengalaman sederhana saya, bahkan untuk forum
rapat yang relatif kecil, saya merasa perlu mempersiapkan diri. Saya mencoba
memetakan kemungkinan pertanyaan: jika yang dibahas A, apa jawabannya; jika B,
bagaimana sikapnya. Saya juga memanfaatkan berbagai sumber, termasuk teknologi
yang kini tersedia, untuk melihat berbagai sudut pandang sebelum berbicara.
Bukan karena saya selalu benar. Justru karena saya
sadar, kemungkinan keliru itu selalu ada.
Karena itu, ketika akhirnya berbicara, saya sering
menambahkan satu kalimat sederhana: bahwa apa yang saya sampaikan adalah
pemikiran awal yang masih terbuka untuk didiskusikan. Kalimat ini mungkin
terdengar kecil, tetapi ia memberi ruang—baik bagi saya maupun bagi orang
lain—untuk memperbaiki, melengkapi, atau bahkan mengoreksi.
Pendekatan seperti ini sebenarnya tidak rumit. Ia
hanya membutuhkan satu hal: kesadaran bahwa setiap pernyataan publik memiliki
konsekuensi.
Bagi pejabat publik, konsekuensi itu jauh lebih besar.
Satu kalimat dapat memengaruhi persepsi masyarakat, memicu reaksi luas, bahkan
menimbulkan kegaduhan yang sebenarnya bisa dihindari.
Di sinilah pentingnya proses “sebelum berbicara”.
Sebelum turun ke lapangan, sebelum berdiri di depan
mikrofon, selalu ada ruang untuk sejenak berhenti dan memastikan: apakah yang
akan disampaikan sudah cukup dipahami? Apakah sudah mempertimbangkan kondisi
nyata masyarakat? Apakah ada kemungkinan tafsir yang keliru?
Proses ini tidak harus panjang atau rumit. Ia bisa
berupa briefing singkat dengan staf ahli. Ia bisa berupa diskusi kecil
untuk menguji gagasan. Bahkan, di zaman sekarang, ia bisa dibantu oleh
teknologi yang memungkinkan kita melihat berbagai perspektif dalam waktu
singkat.
Namun apa pun alatnya, esensinya tetap sama:
mempersiapkan diri sebelum berbicara.
Karena sering kali, masalah bukan muncul karena
kebijakan yang salah, tetapi karena komunikasi yang belum matang.
Di tengah arus informasi yang begitu cepat, publik
tidak hanya menilai isi kebijakan, tetapi juga cara ia disampaikan. Ketika
sebuah gagasan disampaikan tanpa konteks yang cukup, ia mudah dipahami sebagai
keputusan final. Ketika sebuah angka disebut tanpa penjelasan, ia mudah
menimbulkan salah tafsir.
Akibatnya, yang terjadi bukan dialog, melainkan
kegaduhan.
Padahal, ruang publik seharusnya menjadi tempat
bertemunya gagasan, bukan sekadar arena reaksi.
Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak
pernyataan, tetapi pernyataan yang lebih dipersiapkan. Bukan lebih cepat
berbicara, tetapi lebih tepat dalam menyampaikan.
Pada akhirnya, berbicara di depan publik bukan hanya
soal keberanian menyampaikan, tetapi juga tanggung jawab untuk memastikan bahwa
apa yang disampaikan layak didengar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar