Senin, 20 April 2026

Antara Antrean dan Jalanan: Mengapa Ketertiban Kita Sulit Tumbuh

Abdul Rahman Saleh

Suatu sore, dalam perjalanan menuju rumah anak saya, kemacetan kembali menjadi pemandangan yang nyaris rutin. Di depan sekolah, pasar, dan terminal, kendaraan menumpuk. Angkutan umum berhenti di mana saja, penumpang naik turun tanpa aturan yang jelas, dan jalan seolah kehilangan fungsinya sebagai ruang bersama. Ini bukan peristiwa luar biasa. Justru karena terlalu biasa, kita jarang lagi mempertanyakannya.

Kita sering menjelaskan keadaan ini dengan cara yang sederhana: masyarakat tidak tertib. Namun penjelasan seperti itu terasa terlalu mudah, bahkan cenderung menutup kemungkinan untuk melihat persoalan secara lebih jernih.

Pengalaman di tempat lain menunjukkan bahwa ketertiban bukan sesuatu yang mustahil. Di Inggris, misalnya, antrean untuk naik bus kota berlangsung dengan tertib tanpa perlu mesin antrean atau pengawasan ketat. Ketika bus sudah penuh, sopir cukup memberi isyarat, dan penumpang dengan sendirinya menahan langkah. Tidak ada dorong-dorongan, tidak ada upaya menyiasati aturan.

Perbedaan ini sering membuat kita tergoda untuk menyimpulkan bahwa persoalannya terletak pada “budaya”. Kita dianggap memiliki kecenderungan untuk tidak tertib, sementara masyarakat lain sebaliknya. Namun, jika dicermati lebih dalam, ketertiban di sana bukan semata-mata hasil karakter individu, melainkan buah dari sistem yang berjalan secara konsisten.

Ketertiban tumbuh ketika ada kejelasan aturan, kepastian layanan, dan kepercayaan bahwa sistem akan bekerja sebagaimana mestinya. Penumpang bersedia menunggu karena mereka percaya akan ada bus berikutnya. Sopir dihormati karena aturan yang ia jalankan bukan keputusan pribadi, melainkan bagian dari sistem yang disepakati. Dalam kondisi seperti itu, kepatuhan menjadi pilihan yang rasional.

Sebaliknya, dalam banyak situasi di sekitar kita, yang rasional bagi individu justru sering kali bertentangan dengan kepentingan bersama. Penumpang memilih naik di mana saja karena ingin cepat. Sopir berhenti sembarangan karena mengejar penumpang. Terminal dihindari karena dianggap tidak efisien. Dalam situasi yang serba tidak pasti, orang cenderung mengambil jalan yang paling praktis, meskipun berdampak buruk bagi sistem secara keseluruhan.

Upaya penertiban sering kali hadir dalam bentuk imbauan atau bahkan penegakan aturan yang bersifat sporadis. Namun tanpa perubahan pada sistem yang mendasarinya, hasilnya jarang bertahan lama. Kita berharap masyarakat tertib, tetapi tidak selalu menyediakan kondisi yang membuat ketertiban menjadi pilihan yang masuk akal.

Pengalaman di ruang-ruang lain sebenarnya memberi pelajaran penting. Antrean di kasir pusat perbelanjaan kini relatif lebih rapi dibandingkan dulu. Layanan di klinik atau rumah sakit menjadi lebih tertib setelah menggunakan sistem nomor antrean. Perubahan ini tidak terjadi karena masyarakat tiba-tiba menjadi lebih disiplin, melainkan karena sistemnya membuat ketertiban menjadi lebih mudah dilakukan dan lebih sulit dilanggar.

Dari sini tampak bahwa persoalan ketertiban bukan semata-mata persoalan moral, melainkan persoalan desain. Ketika sistem dirancang dengan jelas, transparan, dan konsisten, perilaku pun perlahan menyesuaikan. Sebaliknya, ketika sistem longgar dan penuh celah, pelanggaran menjadi sesuatu yang hampir tak terhindarkan.

Kita mungkin tidak memerlukan pendekatan yang keras untuk memaksa perubahan. Yang lebih mendesak justru adalah ketekunan dalam membangun sistem yang sederhana, tetapi dijalankan secara konsisten. Ketertiban bukan sesuatu yang lahir dari satu kebijakan besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus dalam lingkungan yang mendukung.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah apakah masyarakat kita bisa tertib atau tidak. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: apakah kita sudah sungguh-sungguh membangun sistem yang memungkinkan ketertiban itu tumbuh? (Boo, 19/04/2026)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelum Berbicara di Depan Publik

Abdul R Saleh Belakangan ini, kita sering menyaksikan pola yang berulang dalam ruang publik. Seorang pejabat menyampaikan pernyataan, publ...