Abdul Rahman Saleh
Suatu sore, dalam perjalanan menuju rumah anak saya,
kemacetan kembali menjadi pemandangan yang nyaris rutin. Di depan sekolah,
pasar, dan terminal, kendaraan menumpuk. Angkutan umum berhenti di mana saja,
penumpang naik turun tanpa aturan yang jelas, dan jalan seolah kehilangan
fungsinya sebagai ruang bersama. Ini bukan peristiwa luar biasa. Justru karena
terlalu biasa, kita jarang lagi mempertanyakannya.
Kita sering menjelaskan keadaan ini dengan cara yang
sederhana: masyarakat tidak tertib. Namun penjelasan seperti itu terasa terlalu
mudah, bahkan cenderung menutup kemungkinan untuk melihat persoalan secara
lebih jernih.
Pengalaman di tempat lain menunjukkan bahwa ketertiban bukan
sesuatu yang mustahil. Di Inggris, misalnya, antrean untuk naik bus kota
berlangsung dengan tertib tanpa perlu mesin antrean atau pengawasan ketat.
Ketika bus sudah penuh, sopir cukup memberi isyarat, dan penumpang dengan
sendirinya menahan langkah. Tidak ada dorong-dorongan, tidak ada upaya
menyiasati aturan.
Perbedaan ini sering membuat kita tergoda untuk menyimpulkan
bahwa persoalannya terletak pada “budaya”. Kita dianggap memiliki kecenderungan
untuk tidak tertib, sementara masyarakat lain sebaliknya. Namun, jika dicermati
lebih dalam, ketertiban di sana bukan semata-mata hasil karakter individu,
melainkan buah dari sistem yang berjalan secara konsisten.
Ketertiban tumbuh ketika ada kejelasan aturan, kepastian
layanan, dan kepercayaan bahwa sistem akan bekerja sebagaimana mestinya.
Penumpang bersedia menunggu karena mereka percaya akan ada bus berikutnya.
Sopir dihormati karena aturan yang ia jalankan bukan keputusan pribadi,
melainkan bagian dari sistem yang disepakati. Dalam kondisi seperti itu,
kepatuhan menjadi pilihan yang rasional.
Sebaliknya, dalam banyak situasi di sekitar kita, yang
rasional bagi individu justru sering kali bertentangan dengan kepentingan
bersama. Penumpang memilih naik di mana saja karena ingin cepat. Sopir berhenti
sembarangan karena mengejar penumpang. Terminal dihindari karena dianggap tidak
efisien. Dalam situasi yang serba tidak pasti, orang cenderung mengambil jalan
yang paling praktis, meskipun berdampak buruk bagi sistem secara keseluruhan.
Upaya penertiban sering kali hadir dalam bentuk imbauan atau
bahkan penegakan aturan yang bersifat sporadis. Namun tanpa perubahan pada
sistem yang mendasarinya, hasilnya jarang bertahan lama. Kita berharap
masyarakat tertib, tetapi tidak selalu menyediakan kondisi yang membuat
ketertiban menjadi pilihan yang masuk akal.
Pengalaman di ruang-ruang lain sebenarnya memberi pelajaran
penting. Antrean di kasir pusat perbelanjaan kini relatif lebih rapi
dibandingkan dulu. Layanan di klinik atau rumah sakit menjadi lebih tertib
setelah menggunakan sistem nomor antrean. Perubahan ini tidak terjadi karena
masyarakat tiba-tiba menjadi lebih disiplin, melainkan karena sistemnya membuat
ketertiban menjadi lebih mudah dilakukan dan lebih sulit dilanggar.
Dari sini tampak bahwa persoalan ketertiban bukan
semata-mata persoalan moral, melainkan persoalan desain. Ketika sistem
dirancang dengan jelas, transparan, dan konsisten, perilaku pun perlahan
menyesuaikan. Sebaliknya, ketika sistem longgar dan penuh celah, pelanggaran
menjadi sesuatu yang hampir tak terhindarkan.
Kita mungkin tidak memerlukan pendekatan yang keras untuk
memaksa perubahan. Yang lebih mendesak justru adalah ketekunan dalam membangun
sistem yang sederhana, tetapi dijalankan secara konsisten. Ketertiban bukan
sesuatu yang lahir dari satu kebijakan besar, melainkan dari kebiasaan kecil
yang diulang terus-menerus dalam lingkungan yang mendukung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar