Minggu, 19 April 2026

Diplomasi Perut: Haruskah Kita "Dijajah" oleh Rasa dari Luar?

Oleh: Abdul R Saleh

Pagi itu, di depan layar televisi, saya tertegun melihat sebuah tayangan tentang kuliner Korea. Ada sebuah kontradiksi yang cukup menggelitik hati: betapa fasihnya anak muda kita melafalkan nama-nama seperti mujiage, ramen, atau odeng, namun mungkin akan mengernyitkan dahi saat mendengar plecing kangkung, tahu tek, atau lontong kupang. Fenomena ini memicu sebuah pertanyaan besar: apakah kita sedang berada di ambang "penjajahan" bentuk baru?

Secara fisik, kita memang berdaulat. Namun, secara budaya, kita seolah sedang digempur habis-habisan. Korea Selatan adalah contoh nyata keberhasilan sebuah bangsa dalam menjalankan Soft Power. Melalui gelombang K-Pop dan drama Korea (drakor), mereka tidak hanya menjual lagu dan akting, tetapi juga gaya hidup, termasuk apa yang masuk ke dalam mulut. Makanan menjadi "penumpang" yang sangat sukses dalam gerbong hiburan mereka.

Lantas, bagaimana dengan kita?

Indonesia adalah negeri dengan ribuan pulau dan jutaan rasa. Kita punya rendang yang berkali-kali diakui sebagai makanan terenak di dunia. Kita punya soto dengan variasi yang tak terhitung jumlahnya—dari Soto Betawi hingga Coto Makassar. Namun, kenyataannya di panggung global, kita seringkali masih tertinggal. Di luar negeri, kuliner kita terkadang masih menumpang di bawah bayang-bayang restoran negara tetangga.

Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan jika ingin "menjajah balik" dunia dengan rasa nusantara:

  1. Narasi yang Kuat: Kuliner Korea dicintai karena ada cerita di baliknya. Kita perlu lebih banyak menyisipkan kekayaan kuliner kita ke dalam produk budaya populer—baik itu film, musik, maupun karya tulis—agar makanan tidak hanya sekadar pengisi perut, tapi juga identitas yang membanggakan.
  2. Standardisasi dan Kemasan: Masalah klasik kita adalah konsistensi rasa dan kepraktisan. Untuk bisa mendunia, kita harus mulai memikirkan bagaimana cara mengemas makanan tradisional yang "rumit" menjadi lebih modern dan mudah diakses tanpa menghilangkan keasliannya.
  3. Kebanggaan Generasi Muda: Literasi kuliner harus dimulai dari rumah dan sekolah. Jangan sampai anak-anak kita merasa lebih "keren" saat memegang sumpit di restoran waralaba asing daripada saat menyantap hidangan lokal di warung pinggir jalan.

Kita memiliki modal rempah yang jauh lebih kaya dari negara mana pun. Jika Korea bisa membuat dunia ketagihan pada kimchi, seharusnya kita bisa membuat dunia merindukan aroma kunyit, kemiri, dan lengkuas kita.

Perjuangan ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tugas kita semua yang peduli pada kedaulatan budaya. Sudah saatnya kuliner Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tapi juga menjadi tamu kehormatan di meja makan dunia. (Boo, 20/04/2026)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelum Berbicara di Depan Publik

Abdul R Saleh Belakangan ini, kita sering menyaksikan pola yang berulang dalam ruang publik. Seorang pejabat menyampaikan pernyataan, publ...