Oleh: Abdul R Saleh
Pagi itu, di depan layar televisi, saya tertegun melihat
sebuah tayangan tentang kuliner Korea. Ada sebuah kontradiksi yang cukup
menggelitik hati: betapa fasihnya anak muda kita melafalkan nama-nama seperti mujiage,
ramen, atau odeng, namun mungkin akan mengernyitkan dahi saat
mendengar plecing kangkung, tahu tek, atau lontong kupang.
Fenomena ini memicu sebuah pertanyaan besar: apakah kita sedang berada di
ambang "penjajahan" bentuk baru?
Secara fisik, kita memang berdaulat. Namun, secara budaya,
kita seolah sedang digempur habis-habisan. Korea Selatan adalah contoh nyata
keberhasilan sebuah bangsa dalam menjalankan Soft Power. Melalui
gelombang K-Pop dan drama Korea (drakor), mereka tidak hanya menjual lagu dan
akting, tetapi juga gaya hidup, termasuk apa yang masuk ke dalam mulut. Makanan
menjadi "penumpang" yang sangat sukses dalam gerbong hiburan mereka.
Lantas, bagaimana dengan kita?
Indonesia adalah negeri dengan ribuan pulau dan jutaan rasa.
Kita punya rendang yang berkali-kali diakui sebagai makanan terenak di dunia.
Kita punya soto dengan variasi yang tak terhitung jumlahnya—dari Soto Betawi
hingga Coto Makassar. Namun, kenyataannya di panggung global, kita seringkali
masih tertinggal. Di luar negeri, kuliner kita terkadang masih menumpang di
bawah bayang-bayang restoran negara tetangga.
Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan jika ingin
"menjajah balik" dunia dengan rasa nusantara:
- Narasi
yang Kuat: Kuliner Korea dicintai karena ada cerita di baliknya. Kita
perlu lebih banyak menyisipkan kekayaan kuliner kita ke dalam produk
budaya populer—baik itu film, musik, maupun karya tulis—agar makanan tidak
hanya sekadar pengisi perut, tapi juga identitas yang membanggakan.
- Standardisasi
dan Kemasan: Masalah klasik kita adalah konsistensi rasa dan
kepraktisan. Untuk bisa mendunia, kita harus mulai memikirkan bagaimana
cara mengemas makanan tradisional yang "rumit" menjadi lebih
modern dan mudah diakses tanpa menghilangkan keasliannya.
- Kebanggaan
Generasi Muda: Literasi kuliner harus dimulai dari rumah dan sekolah.
Jangan sampai anak-anak kita merasa lebih "keren" saat memegang
sumpit di restoran waralaba asing daripada saat menyantap hidangan lokal
di warung pinggir jalan.
Kita memiliki modal rempah yang jauh lebih kaya dari negara
mana pun. Jika Korea bisa membuat dunia ketagihan pada kimchi,
seharusnya kita bisa membuat dunia merindukan aroma kunyit, kemiri, dan
lengkuas kita.
Perjuangan ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tugas
kita semua yang peduli pada kedaulatan budaya. Sudah saatnya kuliner Indonesia
tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tapi juga menjadi tamu
kehormatan di meja makan dunia. (Boo, 20/04/2026)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar