Sabtu, 18 April 2026

Perpustakaan yang Ada, tetapi Tidak Hadir

Abdul Rahman Saleh

Suatu hari, saya melakukan pengamatan sederhana. Saya menanyai sepuluh orang yang saya temui: “Apakah Anda tahu bahwa di Bogor ada perpustakaan umum?” Hasilnya mengejutkan sekaligus menggelitik—hanya satu orang yang menjawab tahu. Ketika ditanya lebih jauh, ia pernah berkunjung. Itupun lebih dari setahun lalu, dan kebetulan ia adalah mahasiswa jurusan perpustakaan.

Pengamatan ini memang jauh dari kaidah survei yang benar. Sampelnya kecil, tidak representatif. Namun, justru di situlah letak kejujurannya: ia menangkap kesan yang hidup di tengah masyarakat. Bahwa perpustakaan itu ada, tetapi tidak benar-benar hadir dalam kesadaran banyak orang.

Padahal, perpustakaan umum di kota ini tidak bisa dibilang tertinggal. Gedungnya baik, lokasinya strategis—di tengah kota, dekat pusat aktivitas, bahkan dilengkapi kafe yang nyaman. Saya sendiri pernah duduk di sana, dua kali. Pengunjungnya ada, tetapi terasa itu-itu saja. Tidak tumbuh, tidak meluas. Seolah-olah perpustakaan itu memiliki lingkaran kecil pengunjung setia, tetapi gagal menjangkau dunia yang lebih besar di sekitarnya.

Di kafe yang berada di area perpustakaan itu, saya melihat pemandangan yang akrab: mereka yang datang sendirian sibuk dengan ponsel, sementara yang datang berdua atau lebih larut dalam percakapan. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun, di situlah terasa sebuah ironi halus—orang datang ke lingkungan perpustakaan, tetapi tidak benar-benar berinteraksi dengan pengetahuan yang disimpannya.

Pengalaman ini mengingatkan saya pada masa ketika saya masih aktif sebagai pustakawan. Dalam sebuah penelitian yang saya lakukan di perpustakaan perguruan tinggi, ditemukan bahwa angka kunjungan mahasiswa rata-rata hanya sekitar dua kali dalam sebulan. Itupun belum tentu untuk membaca. Banyak yang datang karena akses Wi-Fi yang cepat dan gratis.

Dari dua pengalaman ini—perpustakaan umum dan perpustakaan kampus—muncul pola yang serupa: orang datang ke perpustakaan, tetapi bukan untuk perpustakaannya.

Dulu, hubungan manusia dengan pengetahuan terasa berbeda. Ketika saya menulis diktat kuliah, saya harus berkeliling dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain. Saya pernah mendatangi pusat dokumentasi ilmiah, perpustakaan universitas, hingga perpustakaan di luar kota, hanya untuk menemukan satu buku yang dibutuhkan. Ada usaha, ada proses, ada rasa puas ketika akhirnya buku itu ditemukan.

Hari ini, semua itu bisa dilakukan dari satu kursi. Dengan beberapa ketukan di papan ketik, ratusan bahkan ribuan sumber tersedia. Buku digital, jurnal terbuka, hingga karya berlisensi bebas dapat diakses dengan mudah. Ini adalah kemajuan yang patut disyukuri. Pengetahuan menjadi lebih demokratis.

Namun di balik kemudahan itu, ada perubahan yang tidak selalu kita sadari. Dulu, pengetahuan adalah sesuatu yang dicari dengan usaha. Sekarang, ia sering kali hanya menjadi sesuatu yang lewat di depan mata.

Perpustakaan pun mencoba beradaptasi. Ruang baca diperindah, kafe disediakan, co-working space dibangun. Bahkan di beberapa negara, perpustakaan telah berkembang jauh—menyediakan akses ke teknologi mahal seperti printer 3D, studio musik, dan berbagai fasilitas kreatif lainnya. Perpustakaan tidak lagi sekadar tempat membaca, tetapi menjadi ruang untuk berkarya.

Namun, pengalaman masa lalu mengingatkan kita bahwa inovasi tidak selalu berjalan mulus. Saya pernah bekerja di sebuah perpustakaan yang pada tahun 1980-an telah dilengkapi studio televisi dan radio. Gagasannya mulia: siaran pendidikan untuk masyarakat desa dan laboratorium bagi mahasiswa. Namun, fasilitas itu tidak pernah benar-benar hidup. Ia terlalu maju untuk zamannya. Tanpa ekosistem yang siap, alat-alat itu akhirnya menjadi besi tua.

Di situlah pelajaran pentingnya: perpustakaan tidak pernah gagal hanya karena kekurangan fasilitas, tetapi sering kali karena tidak bertemu dengan kebutuhan zamannya.

Hari ini, tantangannya berbeda. Masyarakat sudah siap, bahkan bergerak sangat cepat dalam mengadopsi teknologi. Justru perpustakaan yang harus mengejar. Jika masih terjebak pada cara pandang lama—sebagai tempat menyimpan buku dan menunggu pengunjung datang—maka ia perlahan akan ditinggalkan, bukan karena tidak berguna, tetapi karena tidak lagi relevan.

Perpustakaan masa kini tidak cukup hanya menyediakan koleksi, baik cetak maupun digital. Ia harus mampu menghadirkan alasan bagi orang untuk datang dan, yang lebih penting, untuk kembali. Bukan sekadar karena kebutuhan sesaat, tetapi karena merasa kehilangan sesuatu ketika tidak datang.

Perpustakaan tidak harus menjadi seperti di negara maju untuk menjadi berarti. Ia hanya perlu berani bertanya: apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakatnya hari ini? Lalu menjawabnya dengan jujur dan terbuka.

Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan apakah perpustakaan itu ada atau tidak. Persoalannya adalah: apakah ia masih hidup di dalam kehidupan kita?

Jika tidak, maka yang perlu dibangun bukan hanya gedungnya, tetapi kembali hubungan manusia dengan pengetahuan itu sendiri. (Boo, 18/04/2026)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelum Berbicara di Depan Publik

Abdul R Saleh Belakangan ini, kita sering menyaksikan pola yang berulang dalam ruang publik. Seorang pejabat menyampaikan pernyataan, publ...