Abdul Rahman Saleh
Suatu hari, saya melakukan pengamatan sederhana. Saya
menanyai sepuluh orang yang saya temui: “Apakah Anda tahu bahwa di Bogor ada
perpustakaan umum?” Hasilnya mengejutkan sekaligus menggelitik—hanya satu orang
yang menjawab tahu. Ketika ditanya lebih jauh, ia pernah berkunjung. Itupun
lebih dari setahun lalu, dan kebetulan ia adalah mahasiswa jurusan
perpustakaan.
Pengamatan ini memang jauh dari kaidah survei yang benar.
Sampelnya kecil, tidak representatif. Namun, justru di situlah letak
kejujurannya: ia menangkap kesan yang hidup di tengah masyarakat. Bahwa
perpustakaan itu ada, tetapi tidak benar-benar hadir dalam kesadaran banyak
orang.
Padahal, perpustakaan umum di kota ini tidak bisa dibilang
tertinggal. Gedungnya baik, lokasinya strategis—di tengah kota, dekat pusat
aktivitas, bahkan dilengkapi kafe yang nyaman. Saya sendiri pernah duduk di
sana, dua kali. Pengunjungnya ada, tetapi terasa itu-itu saja. Tidak tumbuh,
tidak meluas. Seolah-olah perpustakaan itu memiliki lingkaran kecil pengunjung
setia, tetapi gagal menjangkau dunia yang lebih besar di sekitarnya.
Di kafe yang berada di area perpustakaan itu, saya melihat
pemandangan yang akrab: mereka yang datang sendirian sibuk dengan ponsel,
sementara yang datang berdua atau lebih larut dalam percakapan. Tidak ada yang
salah dengan itu. Namun, di situlah terasa sebuah ironi halus—orang datang ke
lingkungan perpustakaan, tetapi tidak benar-benar berinteraksi dengan
pengetahuan yang disimpannya.
Pengalaman ini mengingatkan saya pada masa ketika saya masih
aktif sebagai pustakawan. Dalam sebuah penelitian yang saya lakukan di
perpustakaan perguruan tinggi, ditemukan bahwa angka kunjungan mahasiswa
rata-rata hanya sekitar dua kali dalam sebulan. Itupun belum tentu untuk
membaca. Banyak yang datang karena akses Wi-Fi yang cepat dan gratis.
Dari dua pengalaman ini—perpustakaan umum dan perpustakaan
kampus—muncul pola yang serupa: orang datang ke perpustakaan, tetapi bukan
untuk perpustakaannya.
Dulu, hubungan manusia dengan pengetahuan terasa berbeda.
Ketika saya menulis diktat kuliah, saya harus berkeliling dari satu
perpustakaan ke perpustakaan lain. Saya pernah mendatangi pusat dokumentasi
ilmiah, perpustakaan universitas, hingga perpustakaan di luar kota, hanya untuk
menemukan satu buku yang dibutuhkan. Ada usaha, ada proses, ada rasa puas
ketika akhirnya buku itu ditemukan.
Hari ini, semua itu bisa dilakukan dari satu kursi. Dengan
beberapa ketukan di papan ketik, ratusan bahkan ribuan sumber tersedia. Buku
digital, jurnal terbuka, hingga karya berlisensi bebas dapat diakses dengan
mudah. Ini adalah kemajuan yang patut disyukuri. Pengetahuan menjadi lebih
demokratis.
Namun di balik kemudahan itu, ada perubahan yang tidak
selalu kita sadari. Dulu, pengetahuan adalah sesuatu yang dicari dengan usaha.
Sekarang, ia sering kali hanya menjadi sesuatu yang lewat di depan mata.
Perpustakaan pun mencoba beradaptasi. Ruang baca diperindah,
kafe disediakan, co-working space dibangun. Bahkan di beberapa negara,
perpustakaan telah berkembang jauh—menyediakan akses ke teknologi mahal seperti
printer 3D, studio musik, dan berbagai fasilitas kreatif lainnya. Perpustakaan
tidak lagi sekadar tempat membaca, tetapi menjadi ruang untuk berkarya.
Namun, pengalaman masa lalu mengingatkan kita bahwa inovasi
tidak selalu berjalan mulus. Saya pernah bekerja di sebuah perpustakaan yang
pada tahun 1980-an telah dilengkapi studio televisi dan radio. Gagasannya
mulia: siaran pendidikan untuk masyarakat desa dan laboratorium bagi mahasiswa.
Namun, fasilitas itu tidak pernah benar-benar hidup. Ia terlalu maju untuk
zamannya. Tanpa ekosistem yang siap, alat-alat itu akhirnya menjadi besi tua.
Di situlah pelajaran pentingnya: perpustakaan tidak pernah
gagal hanya karena kekurangan fasilitas, tetapi sering kali karena tidak
bertemu dengan kebutuhan zamannya.
Hari ini, tantangannya berbeda. Masyarakat sudah siap,
bahkan bergerak sangat cepat dalam mengadopsi teknologi. Justru perpustakaan
yang harus mengejar. Jika masih terjebak pada cara pandang lama—sebagai tempat
menyimpan buku dan menunggu pengunjung datang—maka ia perlahan akan
ditinggalkan, bukan karena tidak berguna, tetapi karena tidak lagi relevan.
Perpustakaan masa kini tidak cukup hanya menyediakan
koleksi, baik cetak maupun digital. Ia harus mampu menghadirkan alasan bagi
orang untuk datang dan, yang lebih penting, untuk kembali. Bukan sekadar karena
kebutuhan sesaat, tetapi karena merasa kehilangan sesuatu ketika tidak datang.
Perpustakaan tidak harus menjadi seperti di negara maju
untuk menjadi berarti. Ia hanya perlu berani bertanya: apa yang benar-benar
dibutuhkan oleh masyarakatnya hari ini? Lalu menjawabnya dengan jujur dan
terbuka.
Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan apakah
perpustakaan itu ada atau tidak. Persoalannya adalah: apakah ia masih hidup di
dalam kehidupan kita?
Jika tidak, maka yang perlu dibangun bukan hanya gedungnya,
tetapi kembali hubungan manusia dengan pengetahuan itu sendiri. (Boo,
18/04/2026)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar