Rabu, 15 April 2026

Membaca, Kesabaran, dan Generasi Gulir

Oleh Abdul Rahman Saleh

Beberapa waktu lalu saya membagikan tulisan berjudul “Membaca dan Seni Memperhalus Budi” di grup senam lansia. Tidak lama kemudian, seorang ibu berkomentar, “Kalau begitu kirim bacaannya, Pak…”

Istri saya pun merespons dengan mengirim foto koleksi novel kami di rumah. Isinya cukup beragam—karya-karya populer yang dulu sangat akrab di tangan pembaca Indonesia: Mira W, V. Lestari, S. Mara Gd, Abdullah Harahap, Marga T, dan lain-lain. Novel-novel itu bukan buku berat. Rata-rata hanya sekitar 250–300 halaman. Bahkan ada yang hanya 100 halaman.

Namun respons ibu itu cukup mengejutkan:
“Waduh… kok tebal-tebal amat ya… tak sanggup aku membacanya.”

Di situlah saya tertegun. Ada sesuatu yang berubah.

Dulu, membaca novel setebal itu adalah hal biasa. Bahkan karya panjang bukan sesuatu yang menggentarkan. Kita mengenal bagaimana novel Puteri karya Putu Wijaya sampai harus dibagi menjadi dua buku karena ketebalannya. Satu buku saja bisa ratusan halaman, dan tetap dibaca dengan tekun.

Kini, 200 halaman terasa berat.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia bagian dari perubahan zaman. Kita hidup di era ketika orang terbiasa menggulir layar ponsel—mencari hiburan cepat, singkat, dan langsung ke inti. Dari video pendek berdurasi satu-dua menit, penonton sudah disuguhi cerita lengkap: yang tertindas tiba-tiba menjadi kaya, yang miskin mendadak menikah dengan “sultan”, yang dizalimi seketika membalas dendam.

Semua serba cepat. Serba instan. Tanpa proses.

Tidak heran jika kemudian muncul apa yang bisa kita sebut sebagai “generasi gulir”—generasi yang lebih akrab dengan gerakan jari di layar daripada membalik halaman buku.

Masalahnya bukan sekadar soal membaca. Yang ikut berubah adalah cara berpikir dan merasakan.

Membaca cerita panjang sesungguhnya melatih kesabaran. Ia mengajak pembaca mengikuti proses: memahami konflik, merasakan emosi tokoh, menunggu penyelesaian. Dari sana, lahir kemampuan untuk menunda reaksi, menimbang persoalan, dan melihat sesuatu tidak secara hitam-putih.

Sebaliknya, konsumsi cerita yang serba cepat cenderung melatih kebiasaan “lompat ke kesimpulan”. Tidak ada ruang untuk proses. Tidak ada jeda untuk merenung.

Mungkin inilah sebabnya kita semakin sering menyaksikan reaksi yang serba cepat dan emosional dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang tetangga, misalnya, pernah datang dengan marah-marah ke rumah tetangga lain hanya karena cucunya pulang sambil menangis setelah bertengkar dengan teman bermainnya. Tidak ada upaya memahami duduk persoalan terlebih dahulu. Emosi langsung meluap, seolah setiap masalah harus segera “diselesaikan” saat itu juga.

Kita mungkin tergoda menyalahkan teknologi. Namun persoalannya lebih dalam: ini tentang kebiasaan yang berubah.

Yang hilang bukan kemampuan membaca, melainkan ketahanan untuk bertahan dalam proses.

Karena itu, gagasan untuk kembali ke dasar—back to basic—menjadi relevan. Dunia pendidikan, misalnya, perlu kembali membiasakan siswa membaca teks panjang secara bertahap. Bukan sekadar membaca, tetapi juga memahami. Bahkan mungkin, pengujiannya tidak cukup hanya dalam bentuk tulisan yang bisa dengan mudah “dibantu” teknologi, melainkan melalui dialog atau ujian lisan yang menuntut pemahaman nyata.

Namun di titik ini, kita perlu jujur bertanya:
apakah budaya membaca masih hidup di kalangan para pendidik itu sendiri?

Sebab pada akhirnya, kebiasaan tidak bisa diajarkan hanya lewat instruksi. Ia ditularkan melalui teladan.

Jika membaca tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari—baik di rumah maupun di sekolah—maka jangan heran jika generasi berikutnya merasa bahwa membaca 200 halaman adalah pekerjaan yang terlalu berat.

Padahal, dari sanalah kesabaran dilatih. Dari sanalah budi diperhalus.

Dan mungkin, dari sanalah kita belajar menjadi manusia yang tidak mudah “meluap” hanya karena satu peristiwa kecil. (Boo, 16/04/2026)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelum Berbicara di Depan Publik

Abdul R Saleh Belakangan ini, kita sering menyaksikan pola yang berulang dalam ruang publik. Seorang pejabat menyampaikan pernyataan, publ...