Oleh Abdul Rahman Saleh
Beberapa waktu lalu saya membagikan tulisan berjudul “Membaca
dan Seni Memperhalus Budi” di grup senam lansia. Tidak lama kemudian,
seorang ibu berkomentar, “Kalau begitu kirim bacaannya, Pak…”
Istri saya pun merespons dengan mengirim foto koleksi novel
kami di rumah. Isinya cukup beragam—karya-karya populer yang dulu sangat akrab
di tangan pembaca Indonesia: Mira W, V. Lestari, S. Mara Gd, Abdullah Harahap,
Marga T, dan lain-lain. Novel-novel itu bukan buku berat. Rata-rata hanya
sekitar 250–300 halaman. Bahkan ada yang hanya 100 halaman.
Namun respons ibu itu cukup mengejutkan:
“Waduh… kok tebal-tebal amat ya… tak sanggup aku membacanya.”
Di situlah saya tertegun. Ada sesuatu yang berubah.
Dulu, membaca novel setebal itu adalah hal biasa. Bahkan
karya panjang bukan sesuatu yang menggentarkan. Kita mengenal bagaimana novel Puteri
karya Putu Wijaya sampai harus dibagi menjadi dua buku karena ketebalannya.
Satu buku saja bisa ratusan halaman, dan tetap dibaca dengan tekun.
Kini, 200 halaman terasa berat.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia bagian dari perubahan
zaman. Kita hidup di era ketika orang terbiasa menggulir layar ponsel—mencari
hiburan cepat, singkat, dan langsung ke inti. Dari video pendek berdurasi
satu-dua menit, penonton sudah disuguhi cerita lengkap: yang tertindas
tiba-tiba menjadi kaya, yang miskin mendadak menikah dengan “sultan”, yang
dizalimi seketika membalas dendam.
Semua serba cepat. Serba instan. Tanpa proses.
Tidak heran jika kemudian muncul apa yang bisa kita sebut
sebagai “generasi gulir”—generasi yang lebih akrab dengan gerakan jari di layar
daripada membalik halaman buku.
Masalahnya bukan sekadar soal membaca. Yang ikut berubah
adalah cara berpikir dan merasakan.
Membaca cerita panjang sesungguhnya melatih kesabaran. Ia
mengajak pembaca mengikuti proses: memahami konflik, merasakan emosi tokoh,
menunggu penyelesaian. Dari sana, lahir kemampuan untuk menunda reaksi,
menimbang persoalan, dan melihat sesuatu tidak secara hitam-putih.
Sebaliknya, konsumsi cerita yang serba cepat cenderung
melatih kebiasaan “lompat ke kesimpulan”. Tidak ada ruang untuk proses. Tidak
ada jeda untuk merenung.
Mungkin inilah sebabnya kita semakin sering menyaksikan
reaksi yang serba cepat dan emosional dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang tetangga, misalnya, pernah datang dengan marah-marah
ke rumah tetangga lain hanya karena cucunya pulang sambil menangis setelah
bertengkar dengan teman bermainnya. Tidak ada upaya memahami duduk persoalan
terlebih dahulu. Emosi langsung meluap, seolah setiap masalah harus segera
“diselesaikan” saat itu juga.
Kita mungkin tergoda menyalahkan teknologi. Namun
persoalannya lebih dalam: ini tentang kebiasaan yang berubah.
Yang hilang bukan kemampuan membaca, melainkan ketahanan
untuk bertahan dalam proses.
Karena itu, gagasan untuk kembali ke dasar—back to basic—menjadi
relevan. Dunia pendidikan, misalnya, perlu kembali membiasakan siswa membaca
teks panjang secara bertahap. Bukan sekadar membaca, tetapi juga memahami.
Bahkan mungkin, pengujiannya tidak cukup hanya dalam bentuk tulisan yang bisa
dengan mudah “dibantu” teknologi, melainkan melalui dialog atau ujian lisan
yang menuntut pemahaman nyata.
Namun di titik ini, kita perlu jujur bertanya:
apakah budaya membaca masih hidup di kalangan para pendidik itu sendiri?
Sebab pada akhirnya, kebiasaan tidak bisa diajarkan hanya
lewat instruksi. Ia ditularkan melalui teladan.
Jika membaca tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan
sehari-hari—baik di rumah maupun di sekolah—maka jangan heran jika generasi
berikutnya merasa bahwa membaca 200 halaman adalah pekerjaan yang terlalu
berat.
Padahal, dari sanalah kesabaran dilatih. Dari sanalah budi
diperhalus.
Dan mungkin, dari sanalah kita belajar menjadi manusia yang
tidak mudah “meluap” hanya karena satu peristiwa kecil. (Boo, 16/04/2026)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar