Sabtu, 25 April 2026

Tentang Kursi yang Bisa Hilang, dan Hati yang Tetap Tinggal

Abdul R Saleh

Belakangan ini, layar media sosial kita kerap dipenuhi oleh narasi pejabat publik yang bernada tinggi. Ada yang mengancam bawahan secara emosional, ada pula yang melontarkan kebijakan teknokratis yang terasa sangat jauh dari realitas perut rakyat kecil. Melihat fenomena ini, saya teringat akan sebuah pelajaran sederhana tentang kekuasaan yang saya petik dari sela-sela kepulan asap kopi di sebuah warung atau kantin kantor.

Banyak pejabat kita yang terjebak dalam delusi "superioritas". Mereka merasa bahwa kursi jabatan adalah sebuah singgasana yang memisahkan mereka dari orang-orang di bawahnya. Jarak ini menciptakan ilusi bahwa mereka berhak berbicara dari menara gading, sementara rakyat hanya bisa mengurut dada.

Padahal, dalam budaya kita ada konsep "tepo seliro". Sebuah kemampuan untuk menempatkan diri di sepatu orang lain. Seandainya para pembuat kebijakan itu sesekali mau duduk "nongkrong" sarapan bersama di warung atau kantin, tanpa sekat dan tanpa pengawalan ketat, mungkin narasi yang keluar dari mulut mereka tidak akan sepedas ancaman atau instruksi yang melangit.

Saya teringat masa-masa ketika masih menjabat sebagai eselon dua di Badan Standardisasi Nasional (BSN). Daripada terkurung dalam kemewahan ruang kerja, saya sering memilih untuk memulai hari dengan sarapan di kantin kantor atau warung kecil di dekatnya. Di sanalah, tembok feodalisme runtuh secara alami. Tidak ada perbedaan kasta antara eselon dua dan staf atau petugas kebersihan ketika kita sama-sama mengantre untuk sepiring nasi uduk atau tertawa bersama karena lelucon pagi.

Awalnya, mungkin ada kecanggungan. Namun, perlahan-lahan mereka mulai berani menyapa, "Pak, sarapan di sini juga?" Dan suasana hangat pun tercipta. Dari sinilah, komunikasi yang tulus dan jujur bermula. Tidak ada wibawa yang hilang meski saya "turun kelas" ke kantin. Justru rasa hormat yang muncul adalah rasa hormat yang lahir dari kedekatan, bukan dari rasa takut.

Waktu membuktikan bahwa kekuasaan memiliki tanggal kedaluwarsa. Kita sering melihat fenomena "ada jabatan ada teman, jabatan hilang teman melayang." Saya melihat sendiri kawan sejawat yang dulu memimpin dengan amarah demi menjaga wibawa, kini saat pensiun justru dihindari oleh mantan anak buahnya. Mengapa? Karena ia memimpin dengan rasa takut, bukan rasa cinta.

Sebaliknya, kehormatan sejati baru diuji justru saat kita tidak lagi memiliki tanda pangkat di pundak. Jika setelah pensiun kita masih diundang untuk memberi pencerahan, atau jika kita kembali ke kantin lama dan masih disambut dengan hangat oleh penjual warung dan mantan staf, itulah tanda bahwa kita pernah "memimpin dengan hati".

Pejabat publik kita perlu belajar bahwa rakyat tidak butuh instruksi yang mengintimidasi. Rakyat butuh pemimpin yang mau berbagi "kursi"—baik itu kursi di dalam mobil dinas, kursi di meja perundingan kebijakan, maupun kursi kayu panjang di warung sarapan. Karena pada akhirnya, kursi jabatan pasti akan hilang, namun jejak kebaikan dan kehangatan di hati orang lain akan menetap selamanya. (Boo, 25/04/2026)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sebelum Berbicara di Depan Publik

Abdul R Saleh Belakangan ini, kita sering menyaksikan pola yang berulang dalam ruang publik. Seorang pejabat menyampaikan pernyataan, publ...