Abdul R Saleh
Belakangan ini, layar media sosial kita kerap dipenuhi oleh
narasi pejabat publik yang bernada tinggi. Ada yang mengancam bawahan secara
emosional, ada pula yang melontarkan kebijakan teknokratis yang terasa sangat
jauh dari realitas perut rakyat kecil. Melihat fenomena ini, saya teringat akan
sebuah pelajaran sederhana tentang kekuasaan yang saya petik dari sela-sela
kepulan asap kopi di sebuah warung atau kantin kantor.
Banyak pejabat kita yang terjebak dalam delusi
"superioritas". Mereka merasa bahwa kursi jabatan adalah sebuah
singgasana yang memisahkan mereka dari orang-orang di bawahnya. Jarak ini
menciptakan ilusi bahwa mereka berhak berbicara dari menara gading, sementara
rakyat hanya bisa mengurut dada.
Padahal, dalam budaya kita ada konsep "tepo
seliro". Sebuah kemampuan untuk menempatkan diri di sepatu orang lain.
Seandainya para pembuat kebijakan itu sesekali mau duduk "nongkrong"
sarapan bersama di warung atau kantin, tanpa sekat dan tanpa pengawalan ketat,
mungkin narasi yang keluar dari mulut mereka tidak akan sepedas ancaman atau
instruksi yang melangit.
Saya teringat masa-masa ketika masih menjabat sebagai eselon
dua di Badan Standardisasi Nasional (BSN). Daripada terkurung dalam kemewahan
ruang kerja, saya sering memilih untuk memulai hari dengan sarapan di kantin
kantor atau warung kecil di dekatnya. Di sanalah, tembok feodalisme runtuh
secara alami. Tidak ada perbedaan kasta antara eselon dua dan staf atau petugas
kebersihan ketika kita sama-sama mengantre untuk sepiring nasi uduk atau
tertawa bersama karena lelucon pagi.
Awalnya, mungkin ada kecanggungan. Namun, perlahan-lahan
mereka mulai berani menyapa, "Pak, sarapan di sini juga?" Dan
suasana hangat pun tercipta. Dari sinilah, komunikasi yang tulus dan jujur
bermula. Tidak ada wibawa yang hilang meski saya "turun kelas" ke
kantin. Justru rasa hormat yang muncul adalah rasa hormat yang lahir dari
kedekatan, bukan dari rasa takut.
Waktu membuktikan bahwa kekuasaan memiliki tanggal
kedaluwarsa. Kita sering melihat fenomena "ada jabatan ada teman, jabatan
hilang teman melayang." Saya melihat sendiri kawan sejawat yang dulu
memimpin dengan amarah demi menjaga wibawa, kini saat pensiun justru dihindari
oleh mantan anak buahnya. Mengapa? Karena ia memimpin dengan rasa takut, bukan
rasa cinta.
Sebaliknya, kehormatan sejati baru diuji justru saat kita
tidak lagi memiliki tanda pangkat di pundak. Jika setelah pensiun kita masih
diundang untuk memberi pencerahan, atau jika kita kembali ke kantin lama dan
masih disambut dengan hangat oleh penjual warung dan mantan staf, itulah tanda
bahwa kita pernah "memimpin dengan hati".
Pejabat publik kita perlu belajar bahwa rakyat tidak butuh
instruksi yang mengintimidasi. Rakyat butuh pemimpin yang mau berbagi
"kursi"—baik itu kursi di dalam mobil dinas, kursi di meja
perundingan kebijakan, maupun kursi kayu panjang di warung sarapan. Karena pada
akhirnya, kursi jabatan pasti akan hilang, namun jejak kebaikan dan kehangatan
di hati orang lain akan menetap selamanya. (Boo, 25/04/2026)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar